<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin Al Ilmu &#187; Umum</title>
	<atom:link href="http://buletin-alilmu.com/category/umum/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://buletin-alilmu.com</link>
	<description>Situs Resmi Buletin Dakwah Islam Al Ilmu</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 May 2013 01:30:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>MENENGOK SKETSA KEHIDUPAN KITA</title>
		<link>http://buletin-alilmu.com/2008/09/17/menengok-sketsa-kehidupan-kita/</link>
		<comments>http://buletin-alilmu.com/2008/09/17/menengok-sketsa-kehidupan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 01:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/mahad/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Nuansa kehidupan kita pada hari-hari ini agak berbeda dengan nuansa kehidupan pada bulan-bulan yang lalu.... <a class="meta-more" href="http://buletin-alilmu.com/2008/09/17/menengok-sketsa-kehidupan-kita/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Nuansa kehidupan               kita pada hari-hari ini agak berbeda dengan nuansa kehidupan pada               bulan-bulan yang lalu.<br />
Baliho besar yang berisikan gambar partai-partai politik nampak               terpajang di berbagai sudut strategis kota.Bendera-bendera par-pol               dan strikernya pun turut meramaikan suasana, baik di kota maupun               di desa.Terlebih lagi gaung kampanye sudah mulai bergema…,suatu               pergeseran kehidupan yang belum pernah kita rasakan pada bulan-bulan               sebelumnya. <span id="more-54"></span><br />
Pernahkah diantara kita mencoba untuk merenung,apa gerangan yang               menyebabkan terjadinya semua ini…?<br />
Ketahuilah wahai saudaraku,bahwa negeri kita menganut sistem demokrasi               dan apa yang anda saksikan hari-hari ini merupakan salah satu dari               konsekwensinya.<br />
Bila kita tengok lebih jauh ternyata sistem demokrasi ini benar-benar               ”menuhankan” suara mayoritas.Karena sejak proses awal kampanye hingga               pemilihan presiden suara mayoritaslah yang sangat menentukan.Oleh               karena itu jangan heran bila kemudian muncul istilah “money politic”,karena               suara merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam sistem ini, lebih-lebih               lagi kalau itu suara mayoritas.<br />
Mengingat betapa besarnya pengaruh suara mayoritas ini dalam kehidupan               bermasyarakat kita,baik yang terkait dengan gawe hari-hari ini ataupun               yang yang lainnya,maka saya ingin mengajak para pembaca untuk sama-sama               memahami dan menelusuri hakikat hukum suara mayoritas tersebut menurut               kaca mata islam.</p>
<p>Apa Itu Hukum Mayoritas ?<br />
Yang dimaksud dengan hukum mayoritas dalam pembahasan kali ini adalah               ; suatu ketetapan hukum bahwa jumlah mayoritas merupakan patokan               kebenaran, dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti,meski               bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rosululloh ?.</p>
<p>Sejauh Manakah Keabsahan Hukum Mayoritas Ini ?.<br />
Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menggolongkan hukum mayoritas               ini ke dalam kaidah-kaidah yang dipegangi oleh orang-orang jahiliyyah,               bahkan termasuk kaidah terbesar yang mereka punyai. Beliau berkata               : “Sesungguhnya di antara kaidah terbesar mereka adalah ; berpegang               dan terbuai dengan jumlah mayoritas, mereka menilai suatu kebenaran               dengannya dan menilai suatu kebatilan dengan kelangkaannya dan dengan               sedikitnya orang yang melakukan”. (Kitab Masail Al Jahiliyyah, masalah               ke-5).<br />
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata : “Di antara karakter               jahiliyyah adalah ; bahwasanya mereka menilai suatu kebenaran dengan               jumlah mayoritas, dan menilai suatu kesalahan dengan jumlah minoritas,               sehingga sesuatu yang diikuti oleh kebanyakan orang berarti benar,               sedangkan yang diikuti oleh segelintir orang berarti salah. Inilah               patokan yang ada pada diri mereka di dalam menilai yang benar dan               yang salah. Padahal patokan ini tidak benar, karena Alloh Jalla               wa ‘Alaa berfirman :<br />
?وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَمَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ               الله إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُم إِلاَّ يَخْرُصُوْنَ?<br />
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi               ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka               tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak               lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh ? )”. (QS. Al An’aam: 116).<br />
Dia juga berfirman :<br />
? وَلكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ?<br />
“Tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui”. (QS. Al A’raaf: 187).<br />
?وَمَا وَجَدْنَا ِلأَ كْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ               لَفَاسِقُوْنَ?<br />
“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya               Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik”. (QS. Al               A’raaf: 102).<br />
Dan lain sebagainya”. (Syarh Masail Al Jahiliyyah, hal. 60).<br />
Bila demikian hakekat permasalahannya, maka betapa ironisnya pernyataan               para budak demokrasi bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Suatu               pernyataan sesat yang memposisikan suara rakyat (mayoritas) pada               tingkat tertinggi yang tak akan pernah salah bak suara Tuhan. Mau               dikemanakan firman-firman Alloh di atas ?!. Yang lebih tragis lagi,               orang-orang yang mengkampanyekan diri sebagai “partai islam”…..,               siang dan malamnya berteriak “tegakkan syari’at Islam!!”, namun               sejak awal kampanyenya yang dibidik adalah suara terbanyak, tak               mau tahu suara siapakah itu. Dan ketika duduk di kursi dewan, teriakannya               pun hanya sampai pada kata “tegakkan” sedangkan kata “syari’at Islam”               tak lagi terdengar. Jangankan menegakkan syari’at Islam, menampakkan               syiar Islam pada dirinya saja masih harus mempertimbangkan sekian               banyak pertimbangan. Terlebih lagi tatkala rapat dan sidang digelar,               hasilnya pun berujung pada suara terbanyak. Tak mau tahu, suara               siapakah itu….. tak mau peduli, apakah sesuai dengan syariat Islam               ataukah justru menguburnya….. tak mau pusing, apakah menguntungkan               umat Islam ataukah justru menelantarkannya. Dan ketika hasil sidang               tersebut diprotes karena tak selaras dengan syari’at Islam, maka               dia pun orang yang pertama kali berkomentar bahwa ini adalah suara               mayoritas anggota dewan….., kita harus mempunyai sikap toleran dan               legowo….., kita harus menjunjung tinggi demokrasi, dan lain sebagainya.               Padahal kalau dia belum duduk di kursi dewan, barangkali dialah               orang pertama yang menggelar demo1 dengan berbagai macam atribut               dan spanduknya. Wallohul Musta’an.<br />
Demikianlah bila hukum mayoritas dikultuskan. Kesudahannya, akan               semakin jauh dari hukum Alloh, akan semakin buta tentang syari’at               Islam, bahkan akan menjadi penentang terhadap hukum Alloh dan syari’at-Nya.<br />
Para pembaca yang dirahmati Alloh….. sesungguhnya masih ada fenomena               lain yang perlu untuk dijadikan refleksi, yaitu dijadikannya hukum               mayoritas sebagai tolak ukur suatu dakwah. Apabila seorang da’i               mempunyai banyak pengikut, ceramahnya diputar di seluruh radio nusantara               dan akhirnya bergelar “da’i sejuta umat” maka dakwahnya pun pasti               benar. Sebaliknya bila seorang da’i pengikutnya hanya sedikit, maka               dakwahnya pun dicurigai, bahkan terkadang divonis sesat. Padahal               Alloh telah berfirman tentang nabi Nuh ? :<br />
?وَمَاءَامَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيْلٌ?<br />
“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit”. (QS. Huud:               40).<br />
Rasululloh ? bersabda :<br />
عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ,               وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ, وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ               مَعَهُ أَحَدٌ &#8230;..<br />
“Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang               nabi bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi bersamanya satu               atau dua orang, dan seorang nabi tidak ada seorang pun yang bersamanya….”.               (HR. Al Bukhari no:5705, 5752, dan Muslim no:220, dari hadits Abdullah               bin Abbas)<br />
Asy Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alus Syaikh berkata : “Dalam hadits               ini terdapat bantahan bagi orang yang berdalih dengan hukum mayoritas,               dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama mereka. Tidaklah               demikian adanya, bahkan yang semestinya adalah mengikuti Al Qur’an               dan As Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja”.<br />
(Taisir Al ‘Azizil Hamid, hal.106).<br />
Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin berkata : “Tidak boleh               tertipu dengan jumlah mayoritas, karena jumlah mayoritas terkadang               di atas kesesatan, Alloh berfirman :<br />
?وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَمَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ               الله إِنْ يَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُم إِلاَّ يَخْرُصُوْن               َ?<br />
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi               ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka               tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak               lain hanyalah berdusta (terhadap Alloh ?)”. (QS. Al An’aam: 116).<br />
Jika kita melihat bahwa mayoritas penduduk bumi berada dalam kesesatan,               maka janganlah tertipu dengan mereka. Jangan pula engkau katakan               : “Sesungguhnya orang-orang melakukan demikian, mengapa aku eksklusif               tidak sama dengan mereka ?”. (Al Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid,               Juz 1 hal. 106).<br />
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata : “Maka tolak ukurnya               bukanlah banyaknya pengikut suatu madzhab atau perkataan, namun               tolak ukurnya adalah benar ataukah batil. Selama ia benar walaupun               yang mengikutinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang mengikutinya,               maka itulah yang harus dipegang (diikuti), karena ia adalah keselamatan.               Dan selamanya sesuatu yang batil tidaklah terdukung (menjadi benar-pen)               dikarenakan banyaknya orang yang mengikutinya. Inilah tolak ukur               yang harus selalu dipegangi oleh setiap muslim”. Beliau juga berkata:               “Maka tolak ukurnya bukanlah banyak (mayoritas) atau pun sedikit               (minoritas), bahkan tolak ukurnya adalah al haq (kebenaran), barangsiapa               di atas kebenaran- walaupun sendirian- maka ia benar dan wajib diikuti,               dan jika mayoritas (manusia) berada di atas kebatilan maka wajib               ditolak dan tidak boleh tertipu dengannya. Jadi tolak ukurnya adalah               kebenaran, oleh karena itu para ulama berkata : “Kebenaran tidaklah               dinilai dengan orang, namun oranglah yang dinilai dengan kebenaran.               Barangsiapa di atas kebenaran maka ia wajib diikuti”. (Syarh Masail               Al Jahiliyyah, hal.61).<br />
Asy Syaikh Abdurrohman bin Hasan Alus Syaikh berkata : “Hendaknya               seorang muslim berhati-hati agar tidak tertipu dengan jumlah mayoritas,               karena telah banyak orang-orang yang tertipu (dengannya), bahkan               orang-orang yang mengaku berilmu sekalipun. Mereka berkeyakinan               di dalam beragama sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang bodoh               lagi sesat (mengikuti mayoritas manusia -pen) dan tidak mau melihat               kepada apa yang dikatakan oleh Alloh dan Rosul-Nya”. (Qurrotu Uyunil               Muwahhidin, dinukil dari ta’liq Kitab Fathul Majid, hal. 83, no.               1).<br />
Bagaimanakah Jika Mayoritas Berada Di Atas Kebenaran ?.<br />
Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan berkata : “Ya, jika mayoritas               manusia berada di atas kebenaran, maka ini sesuatu yang baik. Akan               tetapi sunnatulloh menunjukkan bahwa mayoritas (manusia) berada               di atas kebatilan.<br />
? وَ مَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَ لَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْن ?<br />
“Dan mayoritas manusia tidak akan beriman, walaupun kamu (Muhammad)               sangat menginginkannya” (QS. Yusuf: 103).</p>
<p>? وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَمَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ               الله &#8230; ?<br />
“Dan jika engkau menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka               bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh”. (QS.               Al An’aam: 116)”. (Syarh Masail Al Jahiliyyah, hal.62).</p>
<p>Penutup<br />
Dari pembahasan yang telah lalu, dapatlah diambil suatu kesimpulan               bahwasanya hukum mayoritas bukan dari syari’at Islam, sehingga ia               tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur suatu dakwah, manhaj dan               perkataan. Tolak ukur yang hakiki adalah kebenaran yang dibangun               di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman As Salafus Sholih.<br />
Atas dasar ini maka sistem demokrasi yang menuhankan suara mayoritas               adalah batil. Demikian pula sikap mengukur benar atau tidaknya suatu               dakwah, manhaj dan perkataan dengan hukum mayoritas, merupakan perbuatan               batil dan bukan dari syari’at Islam.<br />
Wallohu A’lam Bish Showab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletin-alilmu.com/2008/09/17/menengok-sketsa-kehidupan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ISLAM RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM BUKAN AGAMA TERORIS</title>
		<link>http://buletin-alilmu.com/2006/09/19/islam-rahmat-bagi-semesta-alam-bukan-agama-teroris/</link>
		<comments>http://buletin-alilmu.com/2006/09/19/islam-rahmat-bagi-semesta-alam-bukan-agama-teroris/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Sep 2006 04:08:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/mahad/index.php/2006/09/19/islam-rahmat-bagi-semesta-alam-bukan-agama-teroris/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ustadz Ruwaifi Situasi dan kondisi pada hari-hari ini cukup memprihatinkan. Dimana Islam diopinikan... <a class="meta-more" href="http://buletin-alilmu.com/2006/09/19/islam-rahmat-bagi-semesta-alam-bukan-agama-teroris/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Ustadz Ruwaifi</p>
<p>Situasi dan kondisi pada hari-hari ini cukup memprihatinkan. Dimana Islam diopinikan sebagai agama teroris, dan teroris identik dengan umat Islam terkhusus orang-orang yang dipandang &#8220;militan&#8221;. Wallahul Musta&#8217;an.</p>
<p><strong>Indahnya Agama Islam</strong><br />
Para pembaca, ketahuilah bahwa Islam merupakan rahmat bagi semesta alam dan bukan agama teroris. Dengan misi inilah Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad . Sebagaimana dalam firman-Nya :<br />
&#8221; Dan tiadalah kami mngutus kamu, malainkan sebagai rahmat bagi semesta alam&#8221; ( Al Anbiyaa&#8217;: 107)<span id="more-127"></span><br />
Karena beliau adalah Rasulullah (utusan Allah) yang selalu membacakan ayat-ayat Allah kepada umatnya, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka al kitab(Al Qur&#8217;an) dan Al Hikmah, sebagaimana firman-Nya:<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri. Ia membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab ( Al Qur&#8217;an) dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum ( kedatangan Nabi) itu, mereka berada dalam kesesatan yang nyata (Ali Imran : 164 )<br />
Agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama kebaikan dan bukan agama perusak. Demikianlah wasiat Allah kepada Rasulullah dan juga kepada seluruh kaum muslimin sebagaimana dalam firman-Nya : &#8221; Dan berbuat baiklah ( kepada orang lain ) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di ( muka ) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan ( Al Qashash : 77 )<br />
Sehingga hanya agama Islam yang diridhai oleh Allah, dan siapa saja yang mencari selain Islam sebagai agama baginya, maka tidak akan di terima oleh Allah dan di akhirat menjadi orang yang merugi. Sebagaimana firman Allah :<br />
&#8221; Sesungguhnya agama ( yang diridhai ) disisi Allah hanyalah Islam.&#8221; ( Ali Imran : 19 )<br />
&#8220;Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu ) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang merugi (Ali Imran : 85 )<br />
Bahkan Allah berwasiat : &#8221; Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.&#8221; ( Ali Imran : 102 )<br />
Demikianlah keagungan agama Islam. Agama kebenaran dan rahmat bagi semesta alam, bukan agama teroris. Betapa indahnya agama Islam….<br />
Kebencian Musuh-Musuh Islam<br />
Ketika cahaya Islam menerangi kegelapan peradapan umat manusia sejak 1439 silam, maka musuh-musuh Islam tiada henti membencinya. Upaya-upaya memadamkan cahaya itu pun senantiasa dilakukan. Allah berfirman : &#8221; Meraka berupaya untuk memadamkan cahaya ( agama ) Allah dengan mulut ( ucapan-ucapan ) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.&#8221; ( Ash Shaff : 8-9 )<br />
Para pembaca, maka dari itu orang-orang kafir dan musyrik dari berbagai macam jenisnya sangat berkepentingan untuk menjalankan program jahat tersebut. Yahudikah, Majusikah, Kristenkah, dll. Cobalah anda buka catatan sejarah, niscaya akan terucap sebuah pengakuan , maka benar Allah dengan segala firman-Nya&#8221;. Program inipun dijalankan oleh orang-orang munafik (orang-orang yang menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kebencian terhadap Islam). Hari-hari mereka berisikan makar terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah:<br />
&#8220;Dan (diantara orang-orang musyrik itu) ada orang-orang yang membangun masjid untuk menimbulkan kemudharatan bagi orang-orang beriman untuk kekafiran dan memecah belah intern orang-orang yang beriman serta melakukan pengintaian untuki (kepentingan) orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka benar-benar bersumpah: &#8220;Kami tidak menghendaki kecuali kebaikan.&#8221; Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).&#8221; (At Taubah:107)<br />
Demikianlah jaringan tentara iblis dari kalangan orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Orang-orang kafir menggunakan kekuatannya, harta dan kedudukannya, sedangkan orang-orang munafik menggunakan kelihaian kata-katanya yang berbisa untuk memojokkan dan menjatuhkan mental kaum muslimin.<br />
Sebagaimana firman Allah : &#8221; Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akanni&#8217;mat Allah ( yang telah dikaruniakan ) kepadamu, ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat, Dan Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan…. S/d …. Tipu daya &#8221; ( Al Ahzaab : 9- 12 )<br />
Kreasi dan inovasi mereka pun selalu muncul untuk konspirasi jahat tersebut, sesuai dengan masa dan eranya. Tak luput, paad era kita ini isu &#8221; Terorisme&#8221; ternyata cukup ampuh untuk memojokkan dan menjatuhkan mental kaum muslimin. Walaupun sejarah telah mencatat bahwa Allah selalu melindungi Islam dan kaum muslimin dalam berbagai fitnah dan gejolak yang mereka munculkan itu.<br />
Terorisme bukan dari Islam<br />
Keberadan syariat jihad fi sabilillah ( perang dijalan Allah ) yang demikian mulia dalam agama Islam, benar-benar sebagai monster yang mengerikan bagi orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sehingga merekapun berupaya mengopinikan di dunia internasional sebagai terorisme. Sementara dilain pihak, ada oknum-oknum dari kaum muslimin yang berlebihan bahkan sesat di dalam memahami makna jihad fi sabillah. Sehingga dalam sudut pandang mereka yang radikal itu, bom bunuh diri, peledakan-peledakan bom di tempat keramaian yang banyak di kunjungi turis, dan aksi-aksi terror lainnya di negeri-negeri kaum muslimin merupakan bagian dari jihad fiisabillah.<br />
(lihat rincian bahasanya pada edisi-edisi mendatang insya Allah ).<br />
Sbut saja kasus bom Bali I dan II , para aktornya yakin seyakin-yakinnya bahwa perbuatan mereka adalah jihad. Demikian pula halnya dengan Dr. Azhari, Nurdin. M. Top dan sejenisnya, mereka meyakini bahwa itu adalah jihad. Padahal tidaklah demikian ajaran yang digariskan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Karena ajaran Rasulullah dan para shahabatnya adalah rahmat bagi semesta alam. Lalu ajaran siapakah itu ?<br />
Jawabannya adalah ajarannya kaum khawarij yang dinyatakan oleh Rasulullah &#8221; anjing-anjingnya penduduk neraka&#8221;. Dengan modal semangat keislaman yang tinggi, dan minimnya ilmu agama yuang murni dari Rasulullah dan para shahabatnya. Rujukan keilmuan mereka didalam menyikapi situasi dan kondisi saat ini adalah buku-buku sayyid Qutb, Abul A&#8217;la Al Maududi, Salman Al Audah, Safar Hawali dan sejenisnya dari neo-khawarif, akhirnya timpanglah pola pikir dan gerakan-gerakan mereka. Tak pelak, mayoritas pemerintah-pemerintah kaum muslimin di dunia ini.divonis telah murtad, para ulama&#8217; Ahlus Sunnah abad ini divonis sebagai antek-antek Barat sementara dengan bangganya mereka mengklaim dirinya sebagai &#8221; para mujahidin&#8221;. Jihad apakah yang mereka lakukan ?! sungguh perbuatan mereka itu lebih pantas disebut terorisme dan mereka lebih pantas disebut teroris. dari pada kebaikan yang mereka inginkan. ( untuk lebih jelasnya bacalah buku &#8221; Mereka Adalah Teroris&#8221; karya Al Ustadz Luqman bin Muhammad ba&#8217;abduh, dengan tebal 720 Halaman, terbitan pustaka Qaulan Sadida &#8211; Malang ).<br />
Para pembaca, adanya oknum-oknum seperti diatas yang membawa lebel Islam dimanfaatkan betul oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafik ( baca: Amerika dan antek-anteknya ). &#8221; Batalyon Opini&#8221; merekapun dengan gencarnya menebarkan isu terorisme dan kaum muslimin adalah para teroris. Hingga akhirnya tertanam suatu paradigma yang salah di tengah masyarakat, bahwa cirri-ciri teroris adalah selalu berpakaian muslim ( jubah, gamis, sorban dll&gt;, berjenggot, pakaian di atas mata kaki, rajin shalat berjamaah, dan kaum wanitanya berbusana muslimah,<br />
Subhanallah… padahal itu semua adalah tuntunan nabi, bahkan diantara konsekuensi seseorang yang mengatakan muslim atau muslimah.<br />
Demikianlah makar musuh-musuh yang tiada henti, Namun kita yakin suatu hari pasti akan sirna. Sebagaimana firman Allah :<br />
&#8220;Dan ( ingatlah ), ketikan orang -orang kafir ( Quraisy ) memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap, memenjarakanmua tau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipudaya dan Allahlah yang menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.&#8221; ( Al Anfaal:30 )</p>
<p>Penutup<br />
Sebagai penutup, kami ( sebagai pribadi musilm ) ingin menyampaikan beberapa nasehat ( masukan ) kepada seluruh. Kaum muslimin baik rakyat ataupun penguasa:<br />
1. seluruh komponen kaum muslimin hendaknya selalu memperdalam agama islam yang murni, yang bersumber dari Rasulullah dan para shahabatnya, dengan suatu harapan agar Allah selalu membimbing kita dalam menyikapi perubahan situasi dan kaondisi atau wolak-waliknya jaman.<br />
2. kaum muslimin hendaknya bersabar dan bertawakal kepada Allah dalam menghadapi segala fitanahan murahan musuh-musuh Islam, serta tidak mudah terpengaruh dengan prinsip khawarij teroris dan penampilan &#8221; kepahlawanan &#8221; aktor-aktor mereka. Karena meraka telah jauh menyimpang dari jalan Rasulullah .<br />
3. sebagaimana pula para penguasa kaum muslimin yang mulia baik sipil ataupu militer, hendaknya tidak mudah di provokasi dan diadu-domba dengan kaum muslimin sikap bijak, jeli dan teliti selalu dituntut sebelum &#8221; menangkap &#8221; orang -orang yang diidentifikasikan sebagai teroris ( alias tidak pukul rata ). Karena semua tindakan kelak dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Sang Raja di Raja, dan Tuhan Semesta Alam.</p>
<p>Semoga Allah selalu membimbing pemerintah kita diatas jalan yang lurus, menjauhkan mereka dari segala makar musuh-musuh Islam, musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin, dan memudahkan mereka untuk menegakkan keadilan, ketentraman dan kesejahteraan umat. Amin ya Rabbal &#8216;Alamin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletin-alilmu.com/2006/09/19/islam-rahmat-bagi-semesta-alam-bukan-agama-teroris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEDUDUKAN PARA SHAHABAT,Di Sisi Allah dan Rasul-Nya Serta Kaum Mukminin</title>
		<link>http://buletin-alilmu.com/2006/09/17/kedudukan-para-shahabatdi-sisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminin/</link>
		<comments>http://buletin-alilmu.com/2006/09/17/kedudukan-para-shahabatdi-sisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Sep 2006 03:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/mahad/index.php/2006/09/17/kedudukan-para-shahabatdi-sisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminin/</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Prof/ Dr. Robbi&#8217; bin Hadi Sesungguhnya para shahabat Rasulullah mempunyai kedudukan yang tinggi... <a class="meta-more" href="http://buletin-alilmu.com/2006/09/17/kedudukan-para-shahabatdi-sisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminin/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis : Prof/ Dr. Robbi&#8217; bin Hadi</p>
<p>Sesungguhnya para shahabat Rasulullah mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya serta di sisi kaum mukminin. Allah telah memuji mereka di dalam Al-Qur&#8217;anul Karim, mengkhabarkan keridhaan-Nya kepada mereka dan keridhaan mereka kepada Allah . Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya): &#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.&#8221; (Ali Imran: 110)<span id="more-110"></span><br />
&#8220;Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan) kamu.&#8221; (Al-Baqarah: 143)<br />
Al-Khathib Al-Baghdadi berkata: &#8220;Lafazh ini (di atas) walaupun sifatnya umum, namun yang dimaksud adalah orang-orang tertentu (para shahabat). Ada yang berpendapat pula bahwa ini hanya berkaitan dengan para shahabat semata.&#8221; Allah berfirman (yang artinya):<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu&#8217;min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya.&#8221; (Al-Fath: 18)<br />
&#8220;Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha pada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.&#8221; (At-Taubah : 100)<br />
&#8220;Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk al jannah). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam al jannah yang penuh dengan kenikmatan.&#8221; (Al-Waqi&#8217;ah: 10-12)<br />
&#8220;Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mu&#8217;min yang mengikutimu.&#8221; (Al-Anfaal: 64)<br />
&#8220;(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung,&#8221; (Al-Hasyr: 8-9)<br />
Dan ayat-ayat lainnya yang cukup banyak tentang keutamaan dan kedudukan mereka.<br />
Adapun Rasulullah , sesungguhnya beliau telah memuji para shahabat dan menjelaskan keutamaan mereka dalam sekian banyak hadits-haditsnya. Di antaranya adalah sabda beliau :<br />
I????? C????C?? ???????? ? E???? C????????? ???????????? ? E???? C????????? ???????????? ? E???? ?????? ?????? E???E??? O???CI?E? ????I????? ?????????? ?? ?????????? O???CI?E???<br />
&#8220;Sebaik-baik manusia (generasi) adalah yang hidup di abadku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya, setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 3650 dari shahabat Imran bin Hushain, dan Muslim no. 4533 dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud, Imran bin Hushain, dan Abu Hurairah)<br />
?C? E???E???C ??????CE??? ? ?C? E???E???C ??????CE??? ? ???? C??????? ???????? E???I??? ? ???? ???????? ????I????? ??E??? ????I? ????E?C ??C ??I????? ??I?? ????I????? ???C? ??????????<br />
&#8220;Janganlah mencela para shahabatku, Janganlah mencela para shahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), kalaulah salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infaq salah seorang dari mereka (para shahabat) yang hanya sebesar cakupan tangan atau setengahnya.&#8221; (HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540, dari shahabat Abu Sa&#8217;id Al Khudri)<br />
Shahabat Abdullah bin Abbas berkata: &#8220;Janganlah mencela para shahabat Nabi Muhammad , sungguh keberadaan salah seorang dari mereka bersama Rasulullah walau sesaat, lebih baik dari ibadah salah seorang dari kalian sepanjang hidupnya.&#8221; (Syarh Ath-Thahawiyyah hal. 532, berkata Asy-Syaikh Al-Albani: Shahih)<br />
Shahabat Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata: &#8220;Sesungguhnya Allah melihat kepada hati segenap hamba-Nya, maka didapatilah hati Nabi Muhammad sebagai hati yang terbaik di antara hati para hamba, sehingga Allah memilihnya dan mengutusnya untuk mengemban risalah-Nya. Kemudian Allah melihat kepada hati para hamba maka didapatilah hati para shahabat Nabi sebagai hati-hati terbaik (setelah hati Nabi Muhammad ), sehingga Allah jadikan mereka sebagai para pembela Nabi-Nya, siap bertempur di atas agamanya. Segala apa yang dipandang baik oleh para shahabat maka di sisi Allah baik dan segala apa yang dipandang buruk oleh mereka maka buruk pula di sisi Allah.&#8221; (Syarh Ath-Thahawiyyah, hal. 532, berkata Asy-Syaikh Al-Albani: Hasan mauquf, dikeluarkan oleh Ath-Thayalisi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang hasan, Dishahihkan Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)<br />
Al-Imam Ath-Thahawi (ketika menjelaskan prinsip Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah) berkata: &#8220;Kami mencintai para shahabat Rasulullah , tidak berlebihan di dalam mencintai salah seorang dari mereka dan tidak pula berlepas diri (bara&#8217;) terhadap siapa pun dari mereka. Kami membenci siapa saja yang membenci para shahabat dan yang menjelek-jelekkan mereka, dan tidaklah kami menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Kecintaan kepada mereka merupakan bagian dari agama, iman dan ihsan, sedangkan kebencian terhadap mereka merupakan suatu kekufuran, kemunafikan dan perbuatan yang melampaui batas.&#8221; (Syarh Ath-Thahawiyyah, hal. 528)<br />
Al-Khathib Al-Baghdadi setelah menyebutkan ayat-ayat dan hadits-hadits seputar kedudukan dan keutamaan para shahabat, berkata: &#8220;Hadits-hadits yang semakna dengan ini cukup luas, semuanya sesuai dengan apa yang terdapat di dalam Al-Qur&#8217;an; yang kesemuanya itu membuktikan tentang kesucian para shahabat dan kepastian keadilan dan kebersihan mereka. Dengan adanya rekomendasi dari Allah (Dzat Yang Maha Mengetahui segala apa yang tersembunyi) untuk mereka ini, maka sungguh tidak seorang pun dari mereka yang butuh terhadap rekomendasi siapa pun dari makhluk di muka bumi ini. Para shahabat akan senantiasa berada dalam posisi yang mulia ini, kecuali bila salah seorang dari mereka benar-benar terbukti melakukan kemaksiatan dengan sengaja, maka gugurlah keadilan (rekomendasi) tersebut. Namun Allah telah bersihkan diri mereka dari perbuatan tersebut, bahkan Allah mengangkat derajat mereka di sisi-Nya. Dan kalaulah nash-nash pujian dari Allah dan Rasul-Nya untuk mereka ini tidak ada, maka amalan-amalan mereka, seperti: hijrah, jihad, membela agama Allah, mengorbankan nyawa dan harta, siap bertempur melawan orang tua dan anak (karena agama), saling menasehati dalam urusan agama, serta kuatnya iman dan keyakinan mereka, sudah menunjukkan secara yakin tentang keadilan dan kesucian mereka serta sebagai bukti bahwa mereka lebih utama dari semua pemberi rekomendasi dari generasi yang datang setelah mereka selama-lamanya. Inilah pendapat keseluruhan ulama dan orang-orang diperhitungkan kata-katanya dari kalangan fuqaha&#8217;.&#8221; (Al-Kifayah, hal. 96)<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: &#8220;Di antara prinsip Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah adalah bersihnya hati dan lisan mereka terhadap para shahabat Rasulullah , sebagaimana yang Allah sifati dalam firman-Nya (yang artinya):<br />
&#8220;Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: &#8220;Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan sudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.&#8221; (Al-Hasyr: 10)<br />
Dan juga mentaati Rasulullah dalam sabdanya: &#8220;Janganlah mencela para shahabatku, Janganlah mencela para shahabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya (Allah), kalaulah salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar Gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infaq salah seorang dari mereka (para shahabat) yang hanya sebesar cakupan tangan atau setengahnya&#8221;, menerima segala apa terdapat dalam Al-Qur&#8217;an, As-Sunnah dan Ijma&#8217; tentang keutamaan dan martabat mereka, berlepas diri dari prinsip Syi&#8217;ah Rafidhah yang membenci dan mencela mereka, serta dari prinsip Nawashib (Khawarij) yang menyakiti Ahlul Bait (keluarga Rasul) dengan perkataan dan perbuatannya. Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah menahan diri dari apa (fitnah) yang terjadi di antara para shahabat, dengan mengatakan:<br />
Sesungguhnya riwayat-riwayat tentang kejelekan mereka ada yang palsu, ada yang ditambah dan dikurangi serta dirubah-rubah dari yang sebenarnya. Adapun yang terjadi dengan sebenarnya maka mereka mendapat udzur dalam permasalahan tersebut, di antara mereka ada yang berijtihad dan benar ijtihadnya, di antara mereka ada pula yang berijtihad dan keliru ijtihadnya. Barangsiapa memperhatikan perjalanan hidup mereka dan segala keutamaan yang Allah karuniakan kepada mereka dengan ilmu dan bashirah, pasti dia akan mengetahui dengan penuh keyakinan bahwasanya mereka adalah makhluk terbaik setelah para Nabi, tidak ada yang manyamai mereka baik dulu ataupun di masa yang akan datang, dan mereka merupakan generasi pilihan umat ini, sebaik-baik umat dan yang paling mulia di sisi Allah . (Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, hal. 142-151)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buletin-alilmu.com/2006/09/17/kedudukan-para-shahabatdi-sisi-allah-dan-rasul-nya-serta-kaum-mukminin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>